Analisis Permukiman Kumuh di Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres, Surakarta

Analisis Permukiman Kumuh di Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres, Surakarta

Analisis Permukiman Kumuh di Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres, Surakarta

Analisis Permukiman Kumuh di Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres, Surakarta
Analisis Permukiman Kumuh di Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres, Surakarta

 

1) Penyebab Munculnya Permukiman Kumuh di Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres, Surakarta

Kota Surakarta merupakan salah satu wilayah yang memiliki beberapa daya tarik tersendiri, baik itu karena Kota Surakarta merupakan salah satu kota budaya, maupun karena semakin majunya bidang-bidang kehidupan yang ada di Kota Surakarta. Daya tarik ilnilah yang menjadi pendorong bagi para migran untuk berpindah ke Kota Surakarta, baik karena kepentingan ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Begitu juga dengan para pemukim yang ada di permukiman kumuh Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres, Surakarta.

Mengacu pada pendapat Clinord (1978) yang mengatakan bahwa penyebab adanya permukiman kumuh yaitu karena adanya pengaruh pertambahan penduduk terutama kepadatannya, sebagai akibat urbanisasi, kemiskinan kebudayaan dan kemauan politik. Permukiman kumuh yang ada di Kelurahan Pucang Sawit bermunculan akibat bertambahnya penduduk yang sebagian besar adalah para pendatang di daerah tersebut. Jumlah penduduk yang terus bertambah akibat migrasi masuk ke Kota Surakarta yang tinggi namun tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan untuk permukiman, menyebabkan para pendatang tersebut membangun rumah di bantaran sungai Bengawan Solo yang notabene merupakan kawasan yang illegal untuk permukiman. Selain itu tingginya harga lahan juga menjadi salah satu faktor munculnya permukiman kumuh di Kelurahan Pucang Sawit. Faktor geografi yang lebih mengacu pada ketersediaan lahan yang minim untuk permukiman dan faktor ekonomi yang lebih menekankan pada harga lahan yang tinggi, merupakan dua faktor penyebab adanya permukiman kumuh di Kelurahan Pucang Sawit.

a. Faktor geografi

Sebagaimana umumnya perkembangan kota-kota lain di Indonesia, Kota Surakarta juga mengalami perkembangan dalam beberapa aspek kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya. Perkembangan tersebut salah satunya ditandai dengan adanya dominasi jenis-jenis penggunaan lahan oleh kawasan perkotaan. Arah kegiatan utama dari kawasan perkotaan adalah sebagai pusat pemerintahan, jasa, perdagangan, perekonomian, sosial dan lain-lain. Akibatnya ketersediaan lahan untuk menampung penduduk di Kota Surakarta yang terus meningkat menjadi sangat minim. Lahan-lahan di sekitar bantaran sungai Bengawan Solo akhirnya menjadi tempat bagi para pendatang untuk membangun tempat tinggalnya, baik yang menetap maupun sementara. Namun lahan-lahan illegal yang digunakan untuk membuat permukiman tersebut luasnya tidak memadahi, maka dibuatlah permukiman dengan rumah-rumah yang jaraknya berdekatan (padat).

b. Faktor Ekonomi

Karena tingginya angka migran yang masuk ke Kota Surakarta, khususnya Kelurahan Pucang Sawit menyebabkan kebutuhan akan tempat tinggal menjadi hal yang sangat pokok. Akan tetapi, semakin menyempitnya lahan untuk permukiman menyebabkan harga tanah semakin mahal. Para pendatang baru yang pada umumnya merupakan para penduduk dengan tingkat ekonomi yang rendah akhirnya mau tidak mau menggunakan lahan-lahan illegal yang tidak diperuntukkan, untuk membangun rumah-rumah mereka.

2) Persebaran Permukiman Kumuh di Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres, Surakarta

Pada bagian ini membahas mengenai persebaran permukiman kumuh di Kelurahan Pucang Sawit, Kecamatan Jebres, Surakarta pada tahun 2002, 2004 2008 dan 2011 melalui pengamatan Peta Tentatif Kualitas Permukiman Kumuh Kelurahan Pucang Sawit.

Dapat kita analisis beberapa hal mengenai permukiman kumuh yang ada disana. Dapat diamati dari peta tentatif tahun 2000 dan 2004 bahwa permukiman kumuh yang ada di Kelurahan Pucang Sawit dalam kurun waktu 2002-2004 jumlahnya semakin bertambah. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah pendatang yang menempati wilayah Kelurahan Pucang Sawit dari tahun ke tahun semakin bertambah. Namun pada tahun 2008 jumlahnya semakin berkurang yang disebabkan oleh adanya penggusuran (relokasi) oleh Pemerintah Kota Surakarta. Pengurangan tersebut tidak semena-mena langsung menghilangkan permukiman kumuh dari area tersebut. Karena dari gambar peta tentatif tahun 2008 masih dapat diamati beberapa bangunan yang masih bertahan di bantaran sungai Bengawan Solo. Selanjutnya di tahun 2011 kebijakan relokasi permukiman kumuh terus digencarkan oleh pemerintah Kota Surakarta hingga akhirnya jumlah pemukim terus mengalami pengurangan hampir lebih dari 75% (seperti yang terlihat dalam gambar peta tentatif tahun 2011).

Pada kesimpulannya berkurangnya jumlah pemukim yang menempati kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Pucang Sawit adalah murni karena adanya relokasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta ke daerah Mojosongo.

Baca Juga: