Aurat Dan Pakaian Olahraga Wanita

Aurat Dan Pakaian Olahraga Wanita

Aurat Dan Pakaian Olahraga Wanita

Aurat Dan Pakaian Olahraga Wanita
Aurat Dan Pakaian Olahraga Wanita

Tentang aurat wanita ini Allah SWT berfirman dalam An Nur ayat 31 yang artinya:
“…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau anak-anak suami mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Dalam hadits yang berbunyi:
فلت يارسول الله عوراتنامانأتى منها وما نرى ؟ قال أحفظ عوراتك الامن زوجتك اومامالكت يمينك ’ قلت فاذا كان القوم بعضهم فى بعضى ؟ قال استطعت ان لايراها احد فلا يرينها قلت : فاذا كان احدا خاليا ؟ قال فا لله تبارك وتعالى احق ان بسخيا منه من الناس

Artinya: “Saya bertanya : manakah dari aurat kami yang boleh kami perlihatkan dan mana yang tidak? Maka Nabi menjawab : Peliharalah auratmu kecuali terhadap istrimu atau hamba sahayamu. Saya bertanya : Kalau orang-orang itu berkumpul satu sama lain? Jawab Nabi : Agar kamu dapat tak seorangpun melihat auratmu, maka janganlah sampai ia melihatnya. Saya bertanya lagi : Kalau seorang dari kamu dalam keadaan sendirian? Maka jawab beliau pula : Maka terhadap Allah yang memberi berkah dan Maha Tinggi sepatutnya orang lebih merasa malu dari pada terhadap sesama manusia.”

Dari penjelasan ayat Al Qur’an dan hadits tersebut dapat dipahami bahwa aurat wanita atau bagian-bagian tubuh yang tidak boleh ditampakkan itu ada bermacam-macam sesuai dengan tempat dan situasi :

1. Aurat wanita dengan lain jenis yang bukan muhrim

sama dengan aurat wanita dalam sholat, yaitu seluruh anggota badan selain wajah dan kedua telapak tangannya.

2. Aurat wanita terhadap muhrim

Muhrimnya yang lelaki antara lain : ayah, mertua, putera (anak kandung), anak tiri, saudara, keponakan, paman, adalah seluruh badan selain wajah leher, kepala dan tangan serta kaki.

3. Aurat wanita terhadap sesamanya

adalah anggota badan antara pusar dan lutut. Menurut ulama Hambali tidak ada perbedaan antara aurat wanita muslimat dan kafir dalam masalah ini. Artinya baik dihadapan sesama muslimah maupun di depan wanita kafir, seorang wanita muslimah boleh membuka badannya selain anggota antara pusar dan lutut.

4. Aurat wanita terhadap suaminya tidak ada batasnya

Baca Juga: Rukun Islam

Ia boleh melihat apa saja dari istrinya, sampai kemaluannya sekalipun, menurut sebagian ulama‘, meski ada pula yang berbeda pendapat dalam hal ini. Satu golongan berpendapat : boleh saja bagi suami melihat bagian luar dari kemaluan istrinya, sedang bagian dalamnya tetap tidak boleh dan sebaliknya bagi wanita boleh melihat kemaluan suaminya. Sedangkan yang lain berpendapat, itu tidak boleh, karena yang autentik dari Rosulullah SAW ialah pernyataan dari Siti Aisya ra,istri beliau, berkata:
مَاأَرَىْ مِنْهُ وَمَارَأَى مِنِّى Artinya: “ Aku tidak pernah melihat itu dari beliau dan beliaupun tidak pernah melihat itu dariku”
Sedang menurut Al Qurthubi, pendapat yang pertamalah yang benar. Berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al Mukminun ayat 5-6 yang artinya: “Dana orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri dan suaminya atau budak yang dimiliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.”

5. Aurat anak perempuan kecil (belum baligh)

bila dia sudah dapat membangkitkan syahwat laki-laki yang sehat perasannya, maka auratnya sama dengan aurat wanita dewasa, sedangkan bagi anak yang masih terlalu kecil sehingga belum lagi membangkitkan syahwat maka dianggap belum mempunyai aurat, sekalipun tetap diharamkan orang melihat farjinya. Mengenai pakaian olah raga wanita, dari beberapa keterangan di atas dapat kita pahami bahwa pakaian olah raga wanita disesuaikan dengan situasi dan kondisi dengan siapa wanita itu berolah raga, siapa saja yang hadir menyaksikan kegiatan olah raga itu. Jika yang hadir terdapat pria yang bukan muhrim, maka pakaian yang dikenakan adalah celana, kaos panjang yang dapat menutup tangan dan sampai lutut, jilbab dan kaos kaki. Bukan dari bahan yang ketat sehingga terlihat jelas lekuk-lekuk dari bentuk tubuhnya. Hal ini dimaksudkan agar di dalam menutup aurat memenuhi syarat, yaitu tidak membangkitkan syahwat lain jenis.

Adapun jika situasi olah raga tersebut hanya dihadiri oleh wanita saja, atau dilakukan di dalam rumah yang hanya ada muhrimnya saja, maka pakaian olah raga yang boleh dikenakan wanita boleh disesuaikan dengan batasan aurat yang telah terlihat oleh mereka, sebagaimana telah diuraikan di atas.