Begini, Alternatif Pendidikan bagi Generasi Millenials

Begini, Alternatif Pendidikan bagi Generasi Millenials

Begini, Alternatif Pendidikan bagi Generasi Millenials

Begini, Alternatif Pendidikan bagi Generasi Millenials
Begini, Alternatif Pendidikan bagi Generasi Millenials

Puluhan guru dari berbagai sekolah di Tangerang dan Tangerang Selatan mengikuti pelatihan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM),

mengunjungi beberapa sekolah model GSM di Yogyakarta, 21-23 Maret ini.

Mereka mengunjungi berbagai sekolah di Kota Gudeg tersebut antara lain ke SD negeri Karangmojo 2 Gunungkidul, SD Negeri Rejodani Sleman, SMP N Girimulyo Kulon Progo, SD Muh Mantaran Sleman.

Pimpinan rombongan guru tersebut, Maria C Oktaviana mengatakan, kunjungan ke Yogyakarta sudah direncanakan lewat seleksi sekolah yang ikut pelatihan GSM. Kemudian mereka mulai melakukan perubahan sesuai dengan pola GSM.

“Mereka dapat berinteraksi dengan jaringan para pioneer GSM, memperoleh ketrampilan baru

. Selain itu juga melakukan sharing tantangan dan metode praktis yang dibutuhkan di lapangan,” katanya, Jumat, (23/3).

Pendiri GSM Muhammad Nur Rizal makin giat memperkenalkan GSM sebagai pendekatan alternatif pendidikan yang sesuai kebutuhan generasi milenials. Selain itu GSM sesuai dengan cita-cita Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yakni mendirikan sekolah sebagai taman bermain dan belajar.

Persoalan di era disrupsi inovasi teknologi bukan pada penguasaan teknologinya, melainkan attitude atau tanggung jawab kita dalam memanfaatkan teknologi agar berdampak positif bagi kemanusiaan dan peradaban.

“Kunjungan ini adalah salah satu platform GSM untuk memungkinkan guru saling berjejaring,

mengembangkan kapasitas profesional, bertukar praktik pendidikan dan kebudayaan dengan lebih konstruktif, kreatif dan efektif. Diharapkan pendidikan bermutu untuk generasi milenials akan inklusif atau dapat dirasakan oleh semua sekolah tanpa terkecuali, khususnya sekolah negeri atau terpinggirkan,” ujar Rizal.

Pendekatan akar rumput ini diharapkan menjadi langkah alternatif yang berbeda dari narasi pengembangan pendidikan yang ada. Selama ini pengembangan pendidikan selalu berasal top down dari pemerintah atau program bantuan asing.

Kalau dari masyarakat atau swasta, sifatnya lebih pada bantuan akses atau infrastruktur seperti beasiswa, bedah kelas atau pengiriman guru bantu.

“Berbeda dengan GSM yang malah menawarkan reformasi pada jantung atau pusat sistem pendidikan yakni mulai mindset, metode pengajaran, interaksi sosial, lingkungan belajar positif hingga ekosistem sekolah yang melibatkan,” kata Novi Candra, salah satu inisiator GSM sekaligus Dosen Fakultas Psikologi UGM.

 

Sumber :

https://balad.org/resensi-adalah/