DAMPAK PERKEBUNAN SAWIT TERHADAP DAERAH ALIRAN SUNGAI

DAMPAK PERKEBUNAN SAWIT TERHADAP DAERAH ALIRAN SUNGAI

DAMPAK PERKEBUNAN SAWIT TERHADAP DAERAH ALIRAN SUNGAI

DAMPAK PERKEBUNAN SAWIT TERHADAP DAERAH ALIRAN SUNGAI
DAMPAK PERKEBUNAN SAWIT TERHADAP DAERAH ALIRAN SUNGAI

Kabupaten Kaur secara topografinya merupakan

Daerah perbukitan yang bergelombang, dengan sudut kemiringan lahan yang bervariasi. Berdasarkan peruntukan lahan kemiringanlahan dapat dibagi kedalam 2 kelompok yaitu: 1). Kemiringan wilayah pada daerah budi daya, dengan luas mencapai 112.031,8 ha dan 2).Kemiringan wilayah kawasan non budi daya dengan luas 143.568,2 ha.

Dengan sudut kemiringan lereng yang ada terdapat di kabupaten kaur keberadaan hutan tanpa disadari telah memberikan manfaat yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) merupakan hulu sungai dari DAS yang tersebar di tujuh kecamatan dengan jumlah desa mencapai 77 desa baik yang terdapat disekitar maupun luar kawasan hutan yang menjadi daerah penyangga.

  •  Luas (DAS Nasional) dengan Luas Das mencapai : 32.277,70 Ha yang membelah ditiga kecamatan seperti kecamatan muara sahung, kecamatan luas, dan kecamatan kaur tengah.
  •  DAS Tetap (DAS Lokal) ; Luas 10,730.49 Ha yang terdapat di kecamatan tetap.
  • DAS Sambat (DAS Lokal) ; Luas 28,092.18 Ha yang terdapat dikecamaan maje dan kaur selatan,
  • DAS Sawang (DAS Lokal); Luas 10,995.11 Ha
  •  DAS Nasal (DAS Lokal); 33.994,94 Ha, Terbagi dalam 3 Sub DAS yaitu Nasal Kiri, Nasal Kanan dan Nasal Hilir.
  • DAS Manula (DAS Nasional); Luas Das 21,939.73 Ha. Terbagi dalam 3 Sub DAS yaitu: Manula Kecil, Manula Kanan dan Manula Hilir.

Secara fisik penyebab kerusakan DAS yangdisoroti adalah perubahan penggunaan lahan,terutama berkurangnya tutupan hutan dalam suatuDAS. Konversi hutan untuk berbagai penggunaanterjadi hampir di seluruh DAS, sejalan denganmeningkatnya jumlah penduduk dan pembangunan.Padahal berdasarkan Undang-Undang No. 19/2004tentang Kehutanan, proporsi minimal luasan hutandalam suatu DAS adalah 30% dan tersebar secaraproporsional.

 

Konversi hutan seperti yang umumnya

Terjadidi berbagai DAS di Indonesia, juga terjadi di DAS Taman Nasional Bukit Barisan Kaur. Konversi hutan yang terjadi di DAS Taman Nasional Bukit Barisan Kaur ditujukan untuk pembukaan lahan perkebunankelapa sawit oleh masyarakat dan perusahaan-perusahaan besar. Jenis tanaman yang ditanam dan pengelolaanlahan pada tanah hutan  yang dikonversi, terutamalahan pertanian sangat berpengaruh terhadap tingkaterosi, karenaperubahan penggunaan lahan akanberpengaruh terhadap sifat-sifat fisik tanah sehinggaakanmempengaruhi aliran permukaan yang terjadi.Menurut Sarief (1985), erosi cukup bervariasi padaberbagai tipe penggunaan tanah. Namun umumnyapada tanah dengan vegetasi kombinasi pohon danrerumputan erosi akan lebih kecil, jika dibandingkandengan jenis penggunaan lahan lainnya,terutamapada lahan yang digunakan untuk tanaman semusimdan pertanian monokultur dengankemiringan lerenglebih besar.Secara luas telah diketahui bahwa padapenggunaan lahan hutan erosi yang terjadi lebih kecil.Hutan dapat mengurangi erosi, tetapi sangatbergantung pada situasi dan kondisi seperti intensitashujan, kelerengan lahan, dan faktor geologi batuan,serta metodepengelolaan yang dipilih (Calder, 1998).

 Erosi merupakan salah satu indikator untukmenilai aspek biofisik terhadap suatu DAS ataukerusakan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untukmempelajari dampak pekebunan kelapa sawit terhadap daerah aliran, dampak tersebut berupa aliran permukaan dan erosi tanah yang terjadi. Penentuan tingkat erosi pada setiappenggunaan lahan sangat diperlukan agar dapatmenentukan alternatif penggunaan lahan yang tepatdalam suatu DAS. Berkaitan dengan usahatani,penentuan perbedaan tingkat erosi pada setiapagroteknologi diperlukan untuk memilihagroteknologi yang ramah lingkungan

Tujuan dalam penelitian ini, yaitu :

  1. Untuk menganalisis dampak perkebunan sawit terhadap Aliran Permukaan di Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Kaur.
  2. Untuk menganalisis dampak perkebunan sawit terhadap Erosi Tanah Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Kaur.

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada Pemerintah Kabupaten Kaur bagi pelaksanaan pengelolaan perkebunan kelapa sawit agar tidak merusak Daerah Aliran Sungai.

 

Potensi Kelapa Sawit Di Kabupaten Kaur

Kabupaten Kaur adalah salah satu kabupaten yang menjadi target perluasan perkebunan sawit di Indonesia dengan target mencapai ratusan ribu hektar. Hal ini terbukti dengan telah dilakukannya kunjungan para pengusaha dari beberapa negara yakni Malaysia, Brunai Darusalam dan dari pengusaha ibu kota pada akhir tahun 2006 hingga awal tahun 2007 ini. Pemerintah kabupaten kaur menyambut baik rencana tersebut dengan telah dikeluarkannya izin prinsip kepada investor tersebut yang akan membuka kebun kelapa sawit dengan pola plasma dan inti.

Kabupaten Kaur merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan berdasarkan Undang-Undang no 3 tahun 2003. Kabupaten Kaur mempunyai luas wilayah 2363.00 km2.

Sebagian  besar tanaman perkebunan di Kabupaten Kaur adalah perkebunan rakyat. Produksi perkebuan ini relatif rendah, kondisi lahan yang mengalami degradasi dan tidak produktif. Seiring dengan pertumbuhan pendududk dan tuntutan ekonomi yang menghimpit kehidupan, maka untuk meningkatkan hasil dilakukan perluasan lahan yakni dengan cara mengubah hutan menjadi lahan perkebunan. Disamping itu tidak sedikit lahan perkebunan yang sudah tidak produktif dibiarkan terlantar sehingga menjadi semak belukar. Kegiatan perluasan perkebunan ini telah merambah ke hutan lindung adat.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/contoh-teks-editorial-jenis-dan-isi-serta-unsur-kebahasaan/