2594 Lynn Ogden Lane

Blog Details

Home   /   Emisi Karbon di Lahan Gambut 
Emisi Karbon di Lahan Gambut 

Emisi Karbon di Lahan Gambut Emisi Karbon di Lahan Gambut 

Tanah gambut merupakan tanah yang memiliki simpanan karbon (C) lebih banyak dari tanah mineral. Sekitar 180-600 mg C dapat ditemukan dalam 1 g gambut kering, sedangkan dalam 1 g tanah mineral dapat ditemukan 5-80 mg karbon. Searah dengan hal tersebut Agus & Subiksa (2008) mengatakan bahwa pada daerah tropika, tanah dan tanaman pada lahan gambut dapat menyimpan 10 kali karbon lebih banyak dari pada tanah dan tanaman pada lahan mineral. Di dunia, total luas lahan gambut sekitar 3% dari luas total daratan di dunia dengan berbagai macam kandungan diantaranya 550 gigaton karbon (30% karbon tanah), 75% karbon dari karbon atmosfir (seluruh karbon biomassa makhluk hidup di daratan), serta setara degan simpanan karbon semua hutan di dunia dua kali lebih banyak. Luas lahan di Indonesia meliputi 10% dari total luas daratanya atau sekitar 20 juta ha memperkirakan karbon yang tersisa atau tersimpan pada lahan gambut di Indonesia sekitar 55 Gigaton (Parish, et al., 2007).
Peningkatan emisi biasanya diakibatkan oleh adaya konversi lahan dengan drainasi yang lebih besar. Makin matang gambut, emisi yang dilepaskan makin rendah. Selain itu, lapisan substratum pada lahan gambut juga dapat menentukan emisi. Lapisan tanah mineral yang mengandung polivalen tinggi di bawah lahan gambut akan melepaskan emisi dalam ukuran kecil. Selanjutnya, ameliorasi yang dilakukan pada tanah gambut dengan maksud memperbaiki kesuburan juga dapat memacu emisi, karena dapat menurunkan rasio karbon/nitrogen (N) dan akan memacu dekomposisi gambut (Parish et al, 2007).
Sebelum menjadikan lahan gambut sebagai lahan pertanian maka lahan gambut perlu dikeringkan. Hal ini dikeranakan pada keadaan alaminya, lahan gambut mengandung banyak air. Tujuan pengeringan ini pada lahan gambut adalah supaya akar tanaman yang akan ditanam pada lahan gambut dapat mengakses oksigen sehingga mengalami pertumbuhan. Namun, proses tersebut membuat mikroba di dalam tanah merongrong bahan organik dan melepaskan CO2 dalam prosesnya.

Pembusukan bahan organik

Pembusukan bahan organik di dalam lahan gambut mengakibatkan penyusutan gambut sehingga memerlukan pengeringan dengan tujuan untuk mencegah air kembali memenuhi gambut. Emisi karbondioksida akan terus berlangsung mengikuti siklus surut dan keringnya gambut. Keberlangsungan tersebut membuat luasan dan ketebalan tanah gambut tidak dapat dipastikan. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyediakan perkiraan emisi dari pengeringan gambut, tetapi data emisi tersebut berasal dari set data yang tidak pasti dan belum berubah sejak 1990 (Rieley et al, 2008).
Cara yang lebih kompeten untuk mencegah gambut kering tidak mengeluarkan emisi karbondioksida adalah dengan membasahi kembali lahan gambut tersebut. Hal tersebut dapat mengurangi dampak kebakaran (mencegah) pada saat cuaca panas yang dapat membuat emisi bertambah dan terjadinya polusi. Di Indonesia, lahan gambut sangat penting karena kandungan karbon di dalamnya yang mampu tersimpan 20 kali lebih banyak dari pada hutan hujan tropis pada umumnya atau tanah yang bermineral, dan 90% diantaranya disimpan di dalam tanah. Apabila di atas lahan gambut terjadi penebangan pohon maka gambut tersebut dapat melepaskan karbon selama bertahun-tahun sehingga terjadi perubahan tanah gambut apabila terjadi kebakaran. Susanti, et al. (2009) mengatakan bahwa hutan di Indonesia hilang sebanyak 5% setiap tahunnya karena penebangan hutan yang terus mengalami peningkatan.