Gaya Bahasa Pertentangan Lengkap

Gaya Bahasa Pertentangan Lengkap

Gaya Bahasa Pertentangan Lengkap

Gaya Bahasa Pertentangan Lengkap
Gaya Bahasa Pertentangan Lengkap

Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum.

a. Hiperbola

Hiperbola merupakan gaya bahasa yang berlebih-lebihan. Yang memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Contoh

  • Sempurna sekali tiada kekurangan suatu apapun buat pengganti baik atau cantik
  • Hatiku hanxur, terkoyak, darahku mendidih, dadaku serasa sesak, mendengar dia memutuskan diriku

b. Litotes

Majas yang didalamnya mengungkapkan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan, litotes, mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya. Contoh

  • Hasil usahanya tidaklah mengecewakan
  • Jakarta sama sekali bukanlah kota kecil dan sepi

c. Ironi

Gaya bahasa sindiran yang menyatakan sebaliknya dengan maksud menyindir. Contoh.

Bagus benar tulisanmu seperti cakar ayam
Saking merdunya suaramu sampai-sampai memecahkan pendengarangku

d. Oksimoron

Oksimoron merupakan jenis gaya bahasa yang mengandung penekanan atau pendirian suatu hubungan sintaksis baik koordinasi maupun determinasi antara dua antonim. Contoh.

Musyawarah merupakan wadah untuk mencari mufakat
tetapi tidak jarang sebagai arena pertentangan pendapat antara peserta

e. Satire

Satire merupakan sejenis bentuk argumen yang beraksi secara tidak langsung, terkadang secara aneh bahkan ada kalanya dengan cara yang cukup lucu yang menimbulkan tertawaan. Satire adalah sajak atau karangan yang berupa kritik yang meresap-resap (sebagai sindiran atau keterusterangan). Contoh.

Surabaya Ajari Aku Tentang Benar

Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Tanpa harus pandai menjilat lagi berlaku bejat
Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap
Ajari aku tidak angkuh
Apalagi memaksa kehendak bersikukuh
Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lamah kian rapuh.
Surabaya, ajari aku apa adanya  
Jangan ajari aku gampang lupa gamang dusta
Jangan pula ajari aku dan warga kota naik, meja
Seperti orang-orang Dewan di Jakarta
Surabaya, Ajari aku jadi wakil rakyat
Lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani
Membuat kata putus benar-benar manusiawi
Menjalankan program dengan kendaraan nurani hati
Surabaya, ajari aku, Ajari aku
Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat
Tanpa harus berebut, apalagi saling sikut
Yang berujung rakyat kian melarat kiang sengsara
Menata hidup kian jumpalitan di ujung abad
Tanpa ada ujung, tanpa ada juntrung
Surabaya, memang boleh berdandan 
Bila malam lampu-lampu iklan warna-warni
Siang, jalanan tertib kendaraan berpolusi
Senja meremang, mentarinya seindah pagi
Di antara gedung tua dan tugu pahlawan kita
Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya
Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan
Kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar
Da suara rakyat adalah suara kebenaran
Tak terbantahkan. Tak terbantahkan!
Surabaya ajari aku tentang benar. Tentang benar.

Surabaya, 21 November 2005
Dari Malsasa: Antologi Puisi dan geguritan 2005

Sumber: https://www.pendidik.co.id/