2594 Lynn Ogden Lane

Blog Details

Home   /   Hay Rumput Gajah

Hay Rumput Gajah

            Rumput gajah (pennicetum purureum) atau rumput napier  merupakan jenis hijauan pakan ternak yang mempunyai kualitas tinggi dan disukai oleh ternak (Rianto dan Purbowati, 2010). Pengawetan rumput gajah dengan pengeringn atau hay merupakan cara yang tepat, sehingga kualitas rumput gajah terjaga dan  dapat di berikan pada ternak untuk kebutuhannya sepanjang tahun. Menurut Rianto et al., (2006) bahwa hay rumput Gajah memiliki kandungan nutrisi Air 13,38%, Abu 15,98%, LK 3,38% PK 9,82% SK 23,88%. Energi 2.992 kcal/kg. Sedangkan menurut  Santoso Dan Hariadi (2008) BK 83,4%, BO 87,8%, PK 12,4%, NDF 70,0%, LK 1,9% dan NFC 3,4%.

            Menurut Wina (2008)  menyatakan bahwa penyebabkan penurunan kadar senyawa karotenoid yang sangat signifikan (83% hilang) selama proses pembuatan hay  karena senyawa karotenoid sangat labil dan mudah rusak radiasi oleh panas atau terekpos oleh sinar UV pada pengeringan hijauan di bawah sinar matahari. WILLIAM  et al.(1998) dalam  Wina (2008) melaporkan kandungan rata-rata β-karoten dalam hijauan segar, dan hijauan yang dibuat ”hay” masing-masing adalah 196 dan 36 mg/ kg bahan kering. Jadi hijauan segar yang dibuat menjadi hay akan menalani penurunan kadar β- karoten dan senyawa karotenoid.

Menurut Nista et al., (2007) bahwa Keuntungan atau kebaikan pembuatan hay yaitu kandungan vitamin D dalam hijauan lebih tinggi, sedangkan Kekurangan dari pembutan hay yaitu  proses pengeringan berlangsung lebih lama menyebahkan penurunan gizi relatif lebih besar, selama proses pengeringan ini sel-sel terus bernapas, menggunakan energi eperti gula dan karbohidrat yang menghasilkan CO2 dan  Karotin (pro-vitamin A) menurun.

2.4  Pembuatan Silase

Silase adalah pakan yang telah diawetkan dari bahan pakan berupa tanaman hijauan, limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainya, dengan jumlah kadar / kandungan air pada tingkat tertentu. Pakan tersebut dimasukan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara, biasa disebut dengan silo, selama sekitar tiga minggu. Di dalam silo tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses an-aerob (proses tanpa udara/oksigen), dimana bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses fermentasi.

Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat di simpan untuk jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya. Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak khususnya untuk mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Proses fermentasi yang tidak terkontrol akan mengakibatkan kandungan nutrisi pada bahan yang di awetkan menjadi berkurang jumlahnya. Diperlukan jenis zat tambahan agar kandungan nutrisi dalam silase tidak berkurang secara drastis, bahkan bisa memenuhi kebutuhan nutrisi ternak yang memakannya.

Syarat hijauan (tanaman) yang dibuat silase adalah segala jenis tumbuhan atau hijauan serta bijian yang di sukai oleh ternak, terutama yang mengandung banyak karbohidrat nya seperti : rumput, sorghum, jagung, biji-bijian kecil, tanaman tebu, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nanas dan jerami padi. Sementara bahan tambahan dimaksudkan untuk meningkatkan dan mempertahankan kadar nutrisi yang terkandung pada bahan pakan silase.

Sumber :

https://profilesinterror.com/nobel-kimia-2017-untuk-trio-pengembang-teknologi-mikroskop-cryo-elektron/