2594 Lynn Ogden Lane

Blog Details

Home   /   ILMU PENGETAHUAN , TEKNOLOGI & KEMISKINAN
ILMU PENGETAHUAN , TEKNOLOGI & KEMISKINAN

ILMU PENGETAHUAN , TEKNOLOGI & KEMISKINAN

ILMU PENGETAHUAN , TEKNOLOGI & KEMISKINAN
ILMU PENGETAHUAN , TEKNOLOGI & KEMISKINAN

Ciri-ciri masyarakat miskin
Tetap tingginya angka kemiskinan menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan persoalan yang pelik. Meskipun berdimensi banyak, ada beberapa karakteritik penting yang melekat pada keluarga miskin. Ciri keluarga miskin adalah sebagai berikut:

Pertama. Secara umum, rata-rata jumlah anggota keluarga dari rumah tangga miskin lebih banyak daripada rumah tangga tidak miskin (4,74 dibanding 3,80). Beban yang lebih tinggi ini memiliki implikasi lanjutan bagi anak-anaknya, di mana peluang pendidikan bagi anak rumah tanga miskin lebih rendah dari pada anak rumah tanga tidak miskin. Untuk jenjang pendidikan SD, peluangnya sudah sama. Artinya, baik yang miskin maupun tidak miskin, semuanya memiliki akses yang tinggi untuk mengenyam pendidikan tingkat SD. Tetapi untuk pendidikan tingkat SMP ke atas, peluang anak rumah tangga miskin masih lebih rendah.

Sejalan dengan akses pendidikan ini, angka putus sekolah usia 7-12 dan 13-15 tahun bagi kedua kelompok rumah tanga tersebut juga timpang, dimana angka putus sekolah anak rumah tangga miskin jauh lebih tinggi dari pada anak rumah tanga tidak miskin. Jadi, bagi anak rumah tangga miskin, persoalannya tambah runyam. Di satu sisi, mereka memiliki peluang yang lebih kecil untuk bersekolah, dan di sisi lain, kalau pun bisa sekolah, mereka memiliki angka putus sekolah yang sangat tinggi. Ini menggambarkan bahwa rumah tanga miskin berpotensi besar untuk menciptakan generasi yang miskin di masa datang.

Kedua. Lama pendidikan kepala rumah tangga miskin lebih pendek daripada kepala rumah tangga tidak miskin. Sekitar 81% kepala rumah tangga miskin hanya memiliki pendidikan SD atau tidak tamat SD.

Ketiga. Dilihat dari sumber penghasilan utamanya, rumah tangga miskin di pedesaan sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian, sedangkan bagi rumah tangga miskin di perkotaan bermata pencaharian di sektor jasa dalam arti luas.

Keempat. Dilihat dari status pekerjaan kepala rumah tangga, kemiskinan di pedesaan dan perkotaan memiliki pola yang sama. Yaitu, rumah tangga tergolong miskin kalau kepala rumah tangganya bekerja sebagai pekerja mandiri dan atau yang dibantu oleh pekerja yang tidak dibayar, pekerja bebas di pertanian dan non-pertanian, atau sebagai buruh atau karyawan lainnya.

Kelima. Akibat dari kemiskinannya, mereka menikmati kualitas kehidupan yang relatif rendah. Dari sisi ini, rumah tangga miskin adalah rumah tangga yang memiliki luas lantai per kapita yang sempit, kebutuhan airnya dipenuhi dari sumber yang tidak terlindungi kesehatannya (bukan PAM), dan dan MCK-nya adalah MCK bersama atau bahkan tidak ber-MCK.

Dengan demikian kemiskinan bukan sekedar fenomena hilir, tetapi sebuah peristiwa yang berasal dari hulunya. Artinya, kemiskinan bukan fenomena yang datangnya tiba-tiba, tetapi suatu fenomena yang muncul secara bertahap. Di mana, kemiskinan bermula dari rendahnya aset yang dimiliki seseorang, baik aset fisik, seperti lahan dan kekayaan moneter, maupun aset non fisik yang melekat pada badannya, seperti pengetahuan, ketrampilan, dan kesehatan. Selanjutnya, rendahnya aset yang dimiliki itu berdampak pada rendahnya produktivitas dari pekerjaan yang ditekuninya. Apapun pekerjaannya, pendapatan mereka tetap rendah. Akhirnya, terbatasnya pendapatan yang disebabkan oleh rendahnya produktivitas, berakibat langsung terhadap rendahnya kualitas lahiriyah kehidupan mereka.

Sumber : https://apartemenjogja.id/