Ketentuan Zakat Fitrah

Ketentuan Zakat Fitrah

Ketentuan Zakat Fitrah

Ketentuan Zakat Fitrah
Ketentuan Zakat Fitrah

Tujuan yang paling utama dari zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang kurang mampu pada hari yang bahagia, yaitu hari raya Idul Fitri. Hal itu hanya dapat terlaksana jika kebutuhan pokok mereka sudah terpenuhi, yaitu makanan.

Oleh sebab itu, standart barang yang digunakan zakat fitrah dan tempat mengeluarkannya disesuaikan dengan daerahnya orang yang zakat dan yang dizakati. Sedangkan syarat-syaratnya barang yang digunakan sebagai zakat fitrah adalah:

a. Bahan makanan

Zakat fitrah harus berupa bahan makanan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat setempat, tidak boleh dalam bentuk uang atau barang, sekalipun nilainya sepadan dengan bahan makanan untuk zakat fitrah.

b. Satu jenis ( tidak campuran)

Bahan makanan yang digunakan zakat fitrah harus sejenis, misalnya beras atau jagung, tidak boleh bahan makanan yang sudah dicampur, misalnya beras yang dicampur jagung atau gandum.

c. Dikeluarkan ditempat orang yang difitrahi

Zakat fitrah harus diberikan pada golongan penerima zakat didaerah dimana orang yang difitrahi menemui waktu wajibnya zakat fitrah.

d. Satu sho’ untuk satu orang

Satu Sho’ beras putih menurut Annawawi adalah = 2719,19 gram.

Jika harta mencukupi, maka zakat fitrah yang dikeluarkan untuk setiap orang minimal harus mencapai satu sho’. Dan jika harta lebih yang dimiliki tidak mencukupi, maka tetap wajib mengeluarkan zakat fitrah semampunya, dan hukumnya sah.

e. Zakat Fitrah Dengan Uang

Menurut ulama Syafi’iyyah (begitu juga menurut Imam Maliki dan Imam Ahmad) zakat fitrah harus berupa bahan makanan dan yang layak dikonsumsi. Tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan selain bahan makanan, misalnya uang yang senilai harga bahan makanan yang digunakan fitrah, atau dengan makanan, atau bahan makanan yang tidak layak, misalnya bahan makanan yang ada ulatnya atau basah sehingga tidak layak untuk disimpan (Hamisy I’anah al Tholibin II/174).

Namun menurut Imam Abu Hanifah, zakat fitrah boleh dirupakan bahan makanan atau dengan memakai uang. Karena zakat fithrah merupakan haknya faqir miskin, dirupakan bahan makanan atau uang sama-sama dapat menutupi kebutuhan mereka.

f. Orang Orang Yang Berhak Menerima Zakat

Allah berfirman dalam Surat at-Taubah ayat 60:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yangdibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Apabila zakat fithrah disalurkan melalui Imam atau Amilnya, maka saat zakat sudah diberikan pada Imam atau Amilnya maka kewajiban zakatnya sudah gugur. Dan jika diberikan langsung oleh pelaku zakat, maka jika telah diberikan pada golongan yang berhak menerimanya maka zakatnya sah. Dan jika diberikan pada orang yang tidak berhak menerimanya, maka zakatnya tidak sah dan wajib diulang.

Orang-orang yang berhak menerima zakat adalah:

Orang Faqir.
Orang Miskin.
Amil Zakat.
Muallaf.
Riqob atau budak mukatab.
Ghorim (orang yang mempunyai tanggungan hutang).
Sabilillah (orang yang berperang dijalan Allah dan tidak mendapatkan bayaran)
IbnuSabil (musafir).

Sabilillah artinya orang yang berperang dijalan Allah, sedangkan sabilil khoir adalah jalan kebaikan atau kemaslahatan umum (membangun jembatan atau jalan, membangun masjid, menggaji pengajar dll). Zakat tidak boleh diberikan terhadap sabilil khoir, namun menurut Imam Qoffal, zakat boleh diberikan pada sabilil khoir (Tafsir An Nawawi I/344).

g. Orang-orang Yang Tidak Berhak Menerima Zakat

Golongan atau orang yang tidak berhak dan tidak boleh menerima zakat adalah:

Non Muslim (kafir asli atau orang murtad).
Budak (kecuali budak mukatab).
Keturunan Bani Hasyim dan Bani Mutholib.
Orang kaya. Yaitu orang yang mempunyai harta atau penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya selama umumnya usia manusia.(I’anah At-Tholibin II/189).
Orang yang nafkahnya menjadi tanggung jawabnya. Tidak boleh memberikan zakat kepada orang tua sendiri, istri atau anak-anaknya yang masih kecil atas nama faqir atau miskin. Sedangkan anak yang sudah besar dan dalam kondisi faqir atau miskin boleh menerima zakat dari orang tuanya. Begitu juga anak atau istri yang masih menjadi tanggungan orang tua atau suami, boleh menerima zakat yang dikeluarkan orang tua atau suami atas nama ghorim (orang yang mempunyai hutang).(Bughyah al-Mustarsyidin 106).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/