Legislator Tegaskan Pancasila sebagai Ideologi Negara

Legislator Tegaskan Pancasila sebagai Ideologi Negara

Legislator Tegaskan Pancasila sebagai Ideologi Negara

Legislator Tegaskan Pancasila sebagai Ideologi Negara
Legislator Tegaskan Pancasila sebagai Ideologi Negara

 

BANDUNG-Anggota Komisi 8 DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Dwi Astuti Wulandari

mengapresiasi diperbolehkannya mengembangkan ideologi sesuai pilihan masyarakat. Namun harus dikembalikan lagi pada titik Pancasila sebagai ideologi negara dan jati diri bangsa.

Hal itu diungkapkan Dwi pada diskusi publik bertemakan “Pluralisme In The of Religion Fundamentalism In Indonesia Community Level”, Kamis (6/4/2017)

Menurut Dwi, pluralisme Indonesia saat ini dalam kondisi rentan perpecahan. Hal itu dikarenakan lunturnya nilai Pancasila di kehidupan masyarakat.

“Pemerintah berperan mengawasi dan bertindak, kami di legislatif selalu mengingatkan

dengan empat pilar dan keluarga sebagai benteng terakhir untuk mengajarkan memahami perbedaan kita sebagai bangsa Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Diskusi digelar Divisi Luar Negeri Partai Demokrat bekerjasama lembaga non profit asal Jerman, Friedrich Naumann Stiftung. Acara tersebut dihadiri sekaligus mengundang antusiasme peserta antara lain dari kalangan mahasiswa, dosen, organisasi masyarakat, hingga politisi Partai Demokrat.

Diskusi juga menghadirkan narasumber antara lain Dosen Departemen Filsafat,

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Rocky Gerung,

Rocky mengatakan situasi politik di Indonesia saat ini seperti berada di era kegelapan. “Berada dalam kegelapan karena fundamentalis diterapkan dalam semua sendi. Kita ingin demokratis, tetapi menganut fundamentalis,”Hal itu sejalan dengan pandangan teoritikus politik/filsuf Jerman, Hannah Arendt, dalam bukunya, “Man in the Dark Times.”paparnya.

Fundamentalis yang sangat terlihat saat ini adalah dari sisi nasionalis dan agamis. Posisi tersebut menjadikan masyarakat buta untuk berpikir secara global. Padahal, kata dia, bangsa Indonesia dengan segala kemajemukannya memiliki kecemerlangan dengan pluralismenya.

“Berpikir plural seperti Bung Karno. Bung Karno menyarikan seluruh pemikiran dunia yaitu Eropa, Timur Tengah, Majapahit dan Sriwijaya. Semua ada dalam Pancasila,” pungkasnya. (MAT)

 

Baca Juga :