2594 Lynn Ogden Lane

Blog Details

Home   /   Multiple intelegences dalam diri Ishaan
Multiple intelegences dalam diri Ishaan

Multiple intelegences dalam diri Ishaan

Multiple intelegences dalam diri Ishaan
Multiple intelegences dalam diri Ishaan

 

Di luar kesulitan membaca dan menulisnya, Ishaan yang dianggap anak keterbelakangan mental ini, mempunyai beberapa tipe kecerdasan yang tidak diapresiasi oleh lingkaran pendidikan di sekolah dan di rumah (oleh sang Ayah). Mengambil istilah multiple intelegences yang digagas oleh Howard Gardner, Ishaan sang dyslexia mempunyai beberapa kecerdasan yang luar biasa di antaranya:

1. Kecerdasan Visual

Ishaan mempunyai kemampuan menggambar dan melukis (painting) di atas rata-rata. Goresan kuasnya sangat tegas dan perpaduan warnanya sangat unik. Sangat superb. Dia juga memvisualisasikan apa yang dia pelajari melalui imajinasinya yang sangat kreatif.

2. Kecerdasan Natural

Ikan, anjing, burung, sangat disukai Ishaan. Ia sayang sekali pada binatang dan memelihara ikan di akuariumnya. Ia sering memperhatikan tingkah laku binatang dan takjub akannya.

3. Kecerdasan Sosial

Bisa dibilang Ishaan berasal dari keluarga ekonomi menengah atas India yang cukup sejahtera. Namun, ia begitu peduli pada orang-orang yang kurang beruntung di sekitarnya. Ia begitu empati pada anak-anak asongan, para buruh kasar, pedagang-pedagang kaki lima, hingga para gelandangan. Ia bisa menatapi mereka selama beberapa saat dengan tatapan ingin menolong.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/fungsi-lembaga-keluarga/

4. Kecerdasan interpersonal

Ishaan adalah seorang perenung dan pemikir. Ketika ia melihat gerak polah ikan, atau melihat induk burung yang sedang memberi makan anak-anaknya. Perasaannya juga sangat sensitif, ia memikirkan apa yang salah dengan dirinya hingga semua orang mengecapnya buruk, kecuali ibunya yang juga tidak tahu kelainan apa yang dia alami.

5. Kecerdasan eksistensial

Hampir sama dengan kecerdasan interpersonal, namun lebih menyangkut pada hal lain di luar diri pribadinya. Terlihat ketika Ishaan menginterpretasikan sebuah puisi yang dibacakan oleh salah seorang teman di kelasnya. Ishaan menjelaskan puisi itu seperti seorang sastrawan atau filsuf. Sayangnya, gurunya menolak jawaban Ishaan.
Jadi, Ishaan hanya lemah dalam Kecerdasan Linguistik, khususnya untuk membaca dan menulis. Dalam mendengarkan dan berbicara, Ishaan tidak mengalami kendala.

Sayangnya, hanya karena lemah dalam satu jenis kecerdasan ini ditambah dengan sistem pendidikan yang hanya mengapresiasi baca tulis hitung sebagai ukurannya, Ishaan dicap sebagai anak berketerbelakangan mental, bodoh, atau idiot. Padahal, ia unggul di lebih banyak jenis kecerdasan daripada teman-temannya.