Pembagian Hadits Shahih Terlengkap

Pembagian Hadits Shahih Terlengkap

Pembagian Hadits Shahih Terlengkap

Pembagian Hadits Shahih Terlengkap
Pembagian Hadits Shahih Terlengkap

Hadits Shahih Lizatihi

Hadits shahih Lizatihi ialah hadits yang bersambung terus sanadnya. Hadits ini diriwayatkan oleh orang adil yang cukup kuat ingatannya dari orang yang semisalnya dan berturut-turut sampai penghujung sanad yang terhindar dari mengganjil dan cacat yang memburukkan. Maksud bersambung terus danadnya ialah sanadnya selamat dari putus atau gugur seorang rawi ditengah-tengahnya. Jadi tiap-tiap perawi harus mendengar sendiri dari gurunya. Dalam hal ini, hadits mu’allaq, muadhdhal, mursal, mungathiq tidak termasuk dalam kriteria hadits shahih lisatihi, sebab tidak bersambung terus sanadnya.
Contoh hadits lisatihi ialah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari riwayat A’raj, dari Abu Hurairah, bahwa

Nabi saw bersabda
لولا أ شقّ على أمّت لأ فرتهم بالسّواك عندكل صلاة
“kalau sekitanya tidak memberatkan umatku, pasti aku perintahkan mereka bersiwak tiap-tiap akan shalat”
Hadits shahih Lighairihi
Hadits shahih lighairihi adalah hadits dibawah tingkatan shshih yang menjadi hadits shahih karena diperkuat oleh hadits-hadits yang lain. Sekiranya hadits yang memperkuat itu tidak ada, maka hadits tersebut hanya berada pada tingkatan hadits hasan. Hadits shahih lighairihi hakekatnya adalah hadits hasan lizatih (hadits hasal karena dirinya sendiri) contoh :
عن ابى هريرة رض الله عنه انّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال: لولاأن أشقّ على أمّت لأ فرتهم بالسّواك عندكلصلاة.
“Dari abu hurairah, bahwa Rasulullah bersabda : sekiranya dia tidak menyusahkan umatku, tentu aku menyuruh mereka bersiwak (menggosok gigi) setiap sholat.”

Contoh Lain

Contoh lain dari hadits shahih lighairihi ialah hadits Bukhari dari ubay bin al ‘abbas bin sahal dari ayahnya (‘abbas) dari neneknya (sahal), katanya:
كان للنّبىّ صلى الله عليه وسلّم فى حانطنا فرس يقال له اللحيف
“Konon Rasulullah mempunyai seekor kuda, ditaruh dikandang kami yang diberi nama al luthaif.”
Ubay bin al-‘abbas oleh ahmad ibnu ma’in dan an-nasa’iy dianggap rawi yang kurang baik hafalannya. Oleh karena itu, hadits tersebut berderajat hasan li dzatih. Tetapi oleh karena hadits ubay tersebut mempunyai mutabi’ yang diriwayatkan oleh abdul muhaimin, maka naiklah derajatnya dari hasan lidzatih menjadi shahih lighairih.

Martabat Hadits Shahih

Kekuatan hadits shahih itu berlebih kurang mengingat berlebih kurangnya sifat kedlabitan dan keadilan rawinya. Hadits shahih yang paling tinggi derajatnya, ialah hadits yang bersanad ashahu’l asamid. Kemudian berturut-turut sebagai berikut :

Hadits yang muttafaq ‘alaihi

yaitu hadits sahih yang telah disepakati oleh kedua imam hadits Bukhari dan Muslim,tentang sanadnya.

Ah hafidh ibnu hajar berpendapat, bahwa kesepakatan antara kedua imam Bukhari dan Muslim itu, maksudnya ialah persesuaian keduanya dalam mentakhrijkan asal hadits dari shahaby, kendatipun terdapat perbedaan-perbedaan dalam gaya bahasanya.
Misalnya hadits Bukhari yang bersanadkan ismail, malik, tsaurbin said abi’i ghais dan abu husaida r.a.
قال النّبى صلى الله عليه وسلم : السّا عى على الأرملة والمسكين كالمجاهد فىسبل الله. أوكالّذى يصوم النّهار ويقوم اللّيل
“orang-orang yang memelihara janda dan orang-orang miskin itu, bagaikan pejuang sabilillah atau bagaikan orang yang berpuasa disiang hari dan bertahajud malam hari.”

Dengan hadits Muslim yang bersanadkan abdullah bin masalamah, malik tsaur bin zaid, abi’i-ghais dan abu hurairah r.a.
قال النّبى صلى الله عليه وسّلم: لالسّا عى على الأر ملة والمسكين كالمجا هد فى سبيل الله, وأ حسبه كا لقائم لايفتر, وكا لصّا ئم لايفطر
“Orang-orang yang memelihara janda-janda orang miskin itu, bagaikan pejuang sabilillah dan aku menganggapnya bgaikan orang yang tiada henti-hentinya bertahajud di malam hari dan bagaikan orang yang puasa tiada berbuka-buka.”
Walaupun kedua hadits Bukhari dan Muslim tersebut bersanadkan dan Bergaya bahasa yang berlainan, namun karena sahabat yang menjadi rawi pertama bersamaan, tetap dikatakan dengan muttafaq-‘alaihi.

Hadits yang hanya diriwayatkan oleh imam Bukhari sendiri

sedangkan imam Muslim tidak meriwayatkan. Para muhaditsin menamainya dengan infarada bihil-Bukhari contoh :
عن ابى هريرة رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : نعمتان مفبون فهيماكثير من الناس :الصحة وافراغ . (البخارى)
“ Wanita dari abu hulairah r.a., ujarnya: Rasulullah saw bersabda: du buah kenikmatan yang besar sekali yang harus dibelinya dengan harga yang tinggi oleh kebanyakan orang ialah kesehatan dan kelimpahah waktu untuk taat kepada Allah.
Hadits yang hanya diriwayatkan oleh imam Muslim sendiri, sedang imam Bukhari tidak meriwayatkan. Para muhaditsin menamainya dengan infaradabihi Muslim, misalnya:
عن أبى رقية تميم بن أ و س الد ارى رع : قال ” إ ن النبى صلى الله عليه وسلم : قال: (الذين النصيحة) قلنا لمن: قال: (لله ولكتابهورسوله ولأ ئمة المسلمين وعامتهم). روه مسلم
“ Warta dari abi ruqaiah tamim bin aus ad dary r.a., menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. Bersabda, agama itu nasihat: untuk siapa? Sahut kami, untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya. Pemimpin-pemimpin kaum Muslim dan segenap kaum Muslimin, jawab Nabi.”
Pra imam hadits, seperti Ahmad, Abu Dawud, At-Turmudzi, An-Nasa’iy. Ibnu majah, asy-syafi’iy dan ibnu khuzaimah juga meruwayatkan hadits tersebut. Haya imam Bukhari saja yang tidak meriwayatkannya
Karena itu hadits tersebut masih lazim dikatakan ifarada bihi Muslim, jika dinisbatkan kepada dua imam hadits Bukhari dan Muslim

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/