Pembahasan Mengenai Hadits Shahih Terlengkap

Pembahasan Mengenai Hadits Shahih Terlengkap

Pembahasan Mengenai Hadits Shahih Terlengkap

Pembahasan Mengenai Hadits Shahih Terlengkap
Pembahasan Mengenai Hadits Shahih Terlengkap

Hadist Shahih

a. Menurut bahasa

Shahih lawan dari sakit. Kahihi bagi fisik, majaz bagi hadits dan untuk semua pengertian
b. Menurut istilah
Hadits yang bersambung sanadnya diriwayatkan oleh orang yang adil bali kuat daya ingatannya dari yang semisalnya hingga puncak akhirnya terhindar dari syadz dan cacat

Penjelasan definisi

Definisi tersebut mengandung beberapa masalah yang wajib dipenuhinya agar menjadi hadits shahih, hal-hal itu adalah :
– Bersambung sanadnya artinya bab-bab perawi dari perawi lain benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya, dari sejak awal hingga akhir sanadnya.
– Adilnya para perawi artinya tiap-tiap perawi itu seorang Muslim baligh bukan fasiq dan tidak pula jelek perilakunya.
– Kuatnya hafalan pada perawinya masing-masing perawinya sempuna daya ingatannya, baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab.
– Tidak ada syadz (bertentangan) artinya hadits itu benar-benar tidak syadz dalam arti bertentangan atau menyelisihi orang yang terpercaya dari lainnya.
– Tidak ada cacat (illat) hadits itu tidak ada cacatnya dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat mencederai pada keshahihan hadits, seentara dlahirnya selamat dari cacat.

Syarat-Syaratnya

Nampak jelaslah dari definisi tersebut bahwa syarat-syarat hadits shahih yang harus dipenuhi hingga benar-benar menjadi shahih ada lima yaitu : bersambung sanadnya, bersifat adi para perawinya, kuatnya daya ingatan perawi-perawinya, tidak adanya cacat dan tidak adanya kejanggalan (syadz). Maka apabila hilang salah satu syarat yang lima itu maka pada saat itu hadits tidak dapat dikatakan shahih.

Hukumnya

Wajib diamalkan sesuai dengan ijma’ ahli hadits dan segolongan ahli ushul dan para fuqaha’, maka ia merupakan salah satu dasar dari dasar-dasar syara’, seorang Muslim tidak ada lapangan untuk meninggalkan mengamalkannya

Tingkatannya

Hadits shahih mempunyai beberapa tingkatan :
1) Tingkatan yang paling tinggi aalah yang diriwayatkan dengan sanad yang termasuk paling shahihnya sanad, seperti Imam Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.
2) Tingkatan yanglebih rendah dari tiu adalah hadist yang diriwayatkan dari jalan rawi-rawi sanadyang pertama seperti riwayad hammad bin salamah dari tsabit dari anas.
3) Dan tingkatan yang paling rendah lagi dalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang ternyata mempunyai sifat tsiqat yang lebih rendah, seperti riwayat suhail bin abi shalih dari bapaknya dari abu hurairah
Berikut ini adalah perincian pembagian hadits shahih kepada tujuh tingkatan yaitu :
1) Yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim (tingkatan tertinggi)
2) Yang khusus diriwayatkan oleh Bukhari
3) Yang khusus diriwayatkan oleh Muslim
4) Yang sesuai dengan persyaratan Bukhari dan Muslim sementara keduanya tidak mengeluarkannya
5) Kemudian yang sesuai dengan persyaratan Muslim saja sementara ia tidak mengeluarkannya
6) Kemusian yang shahih menurut imam-imam yang selain keduanya seperti ibnu huzaimah dan ibnu hibban sementara hadits tersebut tidak terdapat syarat keduanya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/