2594 Lynn Ogden Lane

Blog Details

Home   /   PENGERTIAN, SYARAT, DAN RUKUN MUSAQAH

PENGERTIAN, SYARAT, DAN RUKUN MUSAQAH

PENGERTIAN, SYARAT, DAN RUKUN MUSAQAH

1. Definisi dan Dasar Hukum Musaqah

Berikut penjelasannya:

a) Definisi Musaqah

Musaqah dalam arti bahasa merupakan wazn mufa’alah dari kata as-saqyu yang sinonimnya asy-syurbu yang berarti memberi minum. Penduduk Madinah menamai musaqah sama dengan mu’amalah yang merupakan wazn mufa’alah dari kata ‘amila yang artinya bekerja (bekerja sama).
Sedangkan menurut istilah adalahsuatu akad antara dua orang dimana pihak pertama memberikan pepohonan dalam sebidang tanah perkebunan untuk diurus, disirami dan dirawat sehingga pohon tersebut menghasilkan buah-buahan, dan hasil tersebut dibagi diantara mereka berdua. Namun, Syafi’iyah membatasi perjanjian musaqah ini hanya dengan pohon kurma atau anggur saja, tidak diperluas kepada semua pepohonan.

b) Dasar Hukum Musaqah

Musaqah menurut Hanafiah sama dengan muzara’ah, baik hukum maupun syarat-syaratnya. Menurut Imam Abu Hanifah dan Zufar, musaqah dengan imbalan yang diambil dari sebagian hasil yang diperolehnya, hukumnya batal, karena hal itu termasuk akad sewa menyewa yang sewanya dibayar dari hasilnya dan hal tersebut dilarang oleh syara’, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi saw dari Rafi’ bin Khadij bahwa Nabi saw bersabda:
كَا نَتْ لَهُ أرْضٌ فَلْيَزْ رَعْهَا , وَلاَ يُكْرِيْهَا بِثُلُثِ وَلاَ بِرُبِعِ وَلاَ بِطَعَمِ مُسَمًىمَنْ
Artinya:
“Brang siapa yang memiliki sebidang tanah,maka hendahlah ia menanaminya, dan janganlah ia menyewakannya dengan sepertiga dan tidak pula seperempat (dari hasilnya) dan tidak juga dengan makanan yang disebutkan (tertentu).
Menurut Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan serta jumhur ulama’, musaqah diperbolehkan.

Baca Juga: Nama Bayi Perempuan Islami

2. Rukun Musaqah

Menurut Hanafiah, rukun musaqah adalah ijab dan qabul. Ijab dinyatakan oleh pemilik pepohonan sedangkan qabul diucapkan oleh penggarap. Menurut Malikiyah, akad musaqah mengikat lazim dengan diucapkannya lafal ijab qabul, tidak dengan pekerjaan. Sedangkan menurut Hanabilah, musaqah sama dengan muzara’ah tidak perlu qabul dengan lafal, melainkan cukup memulai dengan penggarapan secara langsung. Syafi’iyah justru mensyaratkan adanya qabul dengan lafal.
Menurut jumhurulama’, rukun musaqah ada 3, yaitu:
1) ‘Aqidain, yaitu pemilik kebun dengan penggarap.
2) Objek akad, yaitu pekerjaan dam buah.
3) Shighat, yaitu ijab dan qabul.
3. Berakhirnya Akad Musaqah
Seperti halnya akad muzara’ah, akad musaqah berakhir karena beberapa hal yaitu:
a) Telahselesainya maa yang disepakati oleh kedua belahpihak. Dalam hubungan ini, Syafi’iyah berpendapat apabila buah keluar setelah habisnya masa musaqah maka penggarap tidak berhak untuk mengambilnya karena masa penggarapan sudah habis. Akan tetapi menurut Hanafiah, apabila sampai dengan masa habisnya musaqah, buah belum keluar atau belum masak maka berdasarkan istihsan, musaqah masih tetap berlaku sampai buah menjadi masak dan penggarap diberikan pilihan apakah mau berhenti atau terus bekerja tanpa diberi upah.
b) Meninggalnya salah satu pihak. Hanabilah berpendapat bahwa musaqah tidak batal karena meninggalnya penggarap. Apabila penggarap meninggal maka ahli warisnya menggantikan tempat penggarap dalam bekerja. Apabila mereka menolak maka mereka tidak boleh dipaksa untuk bekerja. Dalam hal ini, atas dasar putusan hakim, ahli waris pemilik boleh menyewa orang untuk bekerja dengan imbalan yang diambil dari harta warisnya.
c) Akadnya batal disebabkan iqalah (pernyataan batal)secara jelas atau secara uzur. Menurut Syafi’iyah, musaqah tidak batal karena adanya uzur. Apabila penggarap berkhianat misalnya, maka ditunjuklah seorang pengawas yang mengawasi pekerjaanya sampai selesai. Sedangkan Hanabilah, sama pendapatnya dengan Syafi’iyah, yaitu musaqah tidak batal karena adanya uzur. Apabila penggarap sakit misalnya, dan ia tidak mampu bekerja maka ditunjuk orang lain yang menggantikannya untuk sementara, tanpa mencabut kewenangan penggarap.