2594 Lynn Ogden Lane

Blog Details

Home   /   Perkembangan Teori Komunikasi Dalam Perspektif Antropologi
Perkembangan Teori Komunikasi Dalam Perspektif Antropologi

Perkembangan Teori Komunikasi Dalam Perspektif Antropologi

Perkembangan Teori Komunikasi Dalam Perspektif Antropologi

Wilbur Schramm

salah satu yang dianggap sebagai founding father ilmu komunikasi pernah mengandaikan bahwa ilmu ini layaknya sebuah oase di gurun pasir; banyak kafilah yang datang, pengembara yang melintas, namun sedikit saja yang memutuskan untuk tinggal (1980). Pengandaian ini salah satunya dimaknai betapa ilmu komunikasi merupakan bidang yang hiruk pikuk oleh berbagai disiplin dan persepktif untuk pada gilirannya menemukan state of the art.
Perspektif adalah cara untuk melihat atau memandang fenomena tertentu (Miller, 2005: 1). Sementara Griffin (2003: 475) melihat perspektif merupakan istilah yang semakna dengan standpoint, viewpoint, outlook, dan position. Semua istilah ini mengarahkan pada sebuah lokasi khusus dalam ruang dan waktu di mana pengamatan dilakukan dengan mengacu pada nilai-nilai atau sikap-sikap tertentu; sebuah tempat dalam ruang dan waktu untuk memandang dunia di sekitar kita. Sedang Littlejohn (2002: 165), mengutip Barnett Pearce, mengartikan perspektif sebagai satu cara melihat atau memikirkan sesuatu. Dari beberapa sumber di atas, saya memahami perspektif sebagai cara memandang suatu fenomena berdasarkan kerangka konsep atau nilai dalam konteks ruang dan waktu tertentu.
Berdasar pemahaman ini, maka bisa diuraikan lebih lanjut bahwa perspektif memiliki unsur seperti cara pandang yang paling pokok, nilai atau sikap serta konteks ruang dan waktu yang membedakannya dari perspektif yang lain terhadap setiap sesuatu yang tengah dihadapinya. Selanjutnya, perspektif berfungsi memberikan landasan pijak maupun yang menentekan dari sisi mana suatu fenomena akan dipandang, atau memberikan “kacamata” yang nantinya menentukan akan seperti apa fenomena itu dilihat.
Perspektif berbeda dari definisi maupun teori. Teori, dalam kata-kata yang digunakan Littlejohn (2002: 19) adalah seperangkat konsep dan penjelasan yang terorganisir atas suatu fenomena tertentu. Bila demikian adanya, yang membedakan perspektif dari teori adalah bahwa teori merupakan penjelasan-penjelasan maupun konseptualisasi dari fenomena yang diamati, sehingga teori di dalamnya berisi tentang, misalnya penjelasan relasi antarkonsep maunpun antarfenomena. Adapun perspektif tidaklah menjelaskan relasi itu, namun lebih menyediakan cara pandang ketika berhadapan dengan suatu fenomena.
Adapun Miller (2005: 3) mengatakan bahwa orang mendefinisikan istilah di dalam cara-cara yang berbeda, dan di dalam perbedaan definisi itu akan dan dapat mempunyai dampak yang besar terhadap apa yang kita pahami terhadap masalah itu. Sebuah definisi, lazimnya tidak melihat salah atau benar. Atau pun mengklaimnya sebagai satu-satunya definisi yang benar, melainkan bagaimana tekanan dan cakupan yang diberikan di dalamnya. Sebuah definisi mencakup suatu aspek, tetapi mengabaikan aspek lainnya. Singkatnya, definisi memberikan penjelasan atas fenomena, sedangkan persepktif menawarkan bagaimana fenomena harus dilihat.
Menggunakan definisi yang digunakan Koentjaraningrat (2002: 15), antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Definisi ini menekankan pada keanekaragaman untuk kemudian mengelompokkan manusia berdasarkan persamaan-persamaan tertentu berdasarkan fisik maupun kebudayaannya itu. “Keanekaragaman” itulah yang dijadikan perspektif antropologi dalam tulisan ini.

Ada empat subdisiplin antropologi, yaitu (1) Biological/Physical Anthropology, yang mencakup subdisiplin anthropometrics, forensic anthropology, osteology, dan nutritional anthropology; (2) Socio/cultural Anthropology, yang mencakup psychological anthropology, folklore, anthropology of religion, ethnic studies, cultural studies, anthropology of media and cyberspace, dan study of the diffusion of social practices and cultural forms; (3) Archaeology, mencakup prasejarah dan masa awal kebudayaan, kecenderungan pokok dalam evolusi kebudayaan, teknik untuk menemukan, mengangkat, menentukan umur dan analisis terhadap materi yang berasal dari masyarakat di masa lalu; dan (4) Linguistic Anthropology, menekankan pada arti penting pengaruh sosiokultural, komunikasi nonverbal, dan struktur, fungsi serta sejarah dari bahasa, dialek, pidgins, dan creoles. Termasuk dalam subdisiplin ini adalah anthropological linguistics, sociolinguistics, cognitive linguistics, semiotics, discourse analysis, dan narrative analysis.


Baca Juga :