2594 Lynn Ogden Lane

Blog Details

Home   /   Prosedur Penetapan Qiyas & Hukum Mengingkari Qiyas

Prosedur Penetapan Qiyas & Hukum Mengingkari Qiyas

Prosedur Penetapan Qiyas & Hukum Mengingkari Qiyas

Prosedur Penetapan Qiyas

Operasional penggunaan qiyas dimulai dengan mengeluarkan hukum yang terdapat pada kasus yang memiliki nash. Cara ini memerlukan kerja nalar yang luar biasa dan tidak cukup hanya dengan pemahaman makna lafadz saja. Selanjutnya, mujtahid mencari dan meneliti ada tidaknya ‘illat tersebut pada kasus yang tidsk ada nash nya. Apabila ternyata ada ‘illat itu, faqih menggunakan ketentuan hukum pada kedua kasus itu berdasarkan keadaan ‘illat. Dengan demikian, yang dicari mujtahid disini adalah keadaan ‘illat hukum yang terdapat pada nash ( hukum pokok ).
Selanjutnya, jika ‘illat tersebut ternyata betul-betul terdapat pada kasus lain, yang tampak bagi mujtahid adalah bahwa ketentuan hukum pada kasus-kasus itu adalah satu, yaitu ketentuan hukum yang terdapat pada nash (manshukh ‘alaih) menjalar pada kasus-kasus lain yang tidak ada nashnya.
Bagi orang yang akan melakukan qiyas terlebih dahulu harus mengetahui dan meneliti nash dan hukum yang terkandung di dalamnya. Setelah itu, ia meneliti ‘illat yang dipergunakan Syari’ sebagai sandaran hukum didalamnya nash tersebut dan ‘illat pada persoalan baru ( cabang ) yang tidak disebutkan oleh nash. JIka ‘illat sudah diketahui antara pokok dan cabang, maka segera dilakukan qiyas antara keduanya.
Oleh karena itu, orang yang akan melakukan qiyas dituntu berhati-hati dalam memahami nah dan hukum serta harus cermat dalam meneliti ‘illat yang terdapat pada cabang, apakah ada relevansinya dengan pokok yang dijadikan sebagai sandaran qiyas.

Hukum Mengingkari Qiyas

Berkaitan dengan hukum mengingkari qiyas sangat tergantung kepada kelompok mana orang yang menilai berada. Artinya, masalah ini berkaitan dengan masalah kehujjahan qiyas, bagi mereka yang mendukung qiyas ( mutsbit al-qiyas ) jelas akan mengatakan bahwa tidak boleh ( haram ) mengingkari qiyas, karena qiyas adalah dalil hukum syara’ yang diakui oleh al_qur’an, sunnah, praktek sahabat dan logika sehat.
Bagi kelompok yang tidak mengakui qiyas / nufat al qiyas, berpendapat bahwa qiyas harus diingkari atau ditolak karena bertentangan dengan al-Qur’an, praktek sahabat dan logika sehat. Mereka tidak menerima qiyas sebagai hujjah dan dalil hukum syara’. Kelompok ketiga lebih cenderung kepada pendapat yang pertama, yaitu mengakui dan menolak qiyas, karena qiyas adalah salah satu atau metode menggali hukum islam.
Berhubungan dengan ini al Muzanni, sahabat Imam ass Syafi’I berpendapat bahwa para fuqaha sejak zaman Rasulullah sampai sekarang ( zaman al Muzanni ) telah mengguunakan qiyas dan sepakat menyatakan bahwa bandingan yang benar itu adalah benar. Dengan demikian, tidak boleh atau haram menolak qiyas.

Baca Juga: