2594 Lynn Ogden Lane

Blog Details

Home   /   Sumber Suara Hati Nurani

Sumber Suara Hati Nurani

Suara hati nurani itu bersumber dari Sang Pencipta, yaitu Allah Swt. , sebagaimana dalam surah Ali Imran ayat 60 :

الحقُّ  من  ربّك  فلا  تكنْ  مّن  الممترين

Mengutip dari kata-kata mutiara Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengenai sumber suara hati nurani yang berbunyi

إنّما  اَوْرَدَ  عليك  الواردُ  لتكون  به  عليه  وارِدًا

(Sesungguhnya Allah mendatangkan cahaya ilahi {warid} itu kepadamu agar kamu dengan warid itu menjadi orang yang menghadap dan masuk ke hadiratNya).[8]

Suara hati nurani adalah fitrahnya manusia yang datang dari Allah. Suara hati nurani seorang insan akan selalu baik ketika nur Allah sudah meresap dan menetap di hatinya. Menurut Al-Arif billah Ahmad bin Muhammad bin Ajibah al-Hasani, pengarang kitab Iqazhu al- Himam fi Syarhi al-Hikam, bahwa cahaya Allah yang diletakkan di hati hambaNya ( nūr warid ) melalui tiga fase :

  • Nūr Islam, cahayanya seperti bintang, lemah. Cahaya ini merubah keadaan hamba dari gelapnya kekufuran dan kedurhakaan kepada cahaya keislaman, tunduk dan patuh kepada Tuhannya. Disebut juga dengan nūr syari’at.
  • Nūr Iman, cahayanya menyinari hati manusia agar ikhlas beramal dan mengabdi kepadaNya. Disebut juga dengan nūr thariqat.
  • Nūr Ihsan, yaitu cahaya yang menyingkap gelapnya terhijab dari Allah, sehingga orang yang berada pada maqam ini sudah tidak ada lagi penghalang antara hamba dan Allah.

 

  1. C.  Ciri-Ciri Suara Hati Nurani

Adapun mengenai ciri-ciri suara hati nurani itu adalah :

  • Merupakan anugerah dari Allah yang fitrah dalam diri setiap manusia.
  • Berupa ilham dari Allah
  • Cenderung memberikan respon positif dalam hal kebaikan dan respon negative untuk keburukan.

 

D. Perbedaan Suara Hati Nurani

Kita mengerti bahwa hati nurani itu berbeda-beda. Perbedaannya agak besar diantara bangsa-bangsa yang telah maju sekalipun. Bangsa-bangsa itu di dalam melakukan kebaikan dan keburukan, dan diikutinya perbedaan mereka dalam hati nurani masing-masing.

Hati nurani berbeda karena masanya. Bila kita bandingkan hati nurani suatu bangsa pada saat ini, dengan hati nurani pada dua tiga abad yang telah lalu, kita dapatkan perbedaan besar. Pada abad-abad yang lalu, perbudakan itu adalah hal yang biasa dan perempuan siperlakukan secara kasar, sedang dahulu suara hati tidak memungkirinya sedang bangsa sekarang mencerca perbuatan itu dan mencela melakukannya.

Manusia berbeda hati nuraninya karena perbedaan waktunya. Terkadang ia menyaksikan sesuatu yang baik dalam suatu waktu sehingga bila meningkat pikirannya ia melihat buruk, dan begitu sebaliknya.[9]