TAHAP MEMPERSONALISASI

TAHAP MEMPERSONALISASI

TAHAP MEMPERSONALISASI

TAHAP MEMPERSONALISASI
TAHAP MEMPERSONALISASI
Konselor “Kamu merasa sedih karena berbagai kekurangan yang kamu miliki telah menghilangkan harapan yang kamu inginkan..?” Mempersonalisasi arti (personalisasi tema umum)
Konseli “Ya bu, saya merasa terganggu karena sering kepikiran masalah ini. Setiap saya mencoba untuk bisa bersikap relaks selama pelajaran berlangsung, tapi saya selalu merasa tegang dan takut.”
Konselor “Kamu merasa jengkel karena kamu belum bisa melakukannya?” Personalisasi pengalaman
Konseli “Benar bu, beberapa waktu yang lalu saya sudah mencobanya tapi tetap saja saya merasa tegang dan takut.”
Konselor “Kamu merasa sangat marah karena kamu masih tetap belum bisa bersikap yakin pada diri sendiri?” personalisasi implikasi
Konseli “Benar bu. Pertama, saya tidak nyaman berada dikelas karena saya merasa cemas sebelum dan selama pelajaran berlangsung.”
Konselor “Kamu merasa kecewa karena kamu  merasa ragu pada kemampuan kamu sendiri ?” mengonseptualisasikan kekurangan
Konseli “Ya bu, saya merasa kecewa..”
Konselor “Kamu merasa sedih karena kamu sudah mencobanya dan hasilnya gagal?” menginternalisasikan kekurangan
Konseli “Ya bu, saya merasa sedih sekali dengan hal ini?”
Konselor “Kamu merasa putus asa karena kamu tidak tahu harus berbuat apa sebagaimana ditunjukkan oleh kamu ragu pada kemampuan kamu sendiri” mengongkretkan kekurangan
Konseli “Sebenarnya saya ingin mencobanya lagi tapi saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa?”
Konselor “Tadi kamu mengatakan kalau kamu ingin mencobanya lagi tapi kok sekarang kamu tidak tahu harus berbuat apa?” mengonfrontasikan kekurangan
Konseli “Iya bu, saya belum melakukan suatu usaha yang maksimal. Andai saja saya bisa mampu mencobanya lagi mungkin saya tidak akan merasa cemas sebelum dan sesudah pelajaran berlangsung.”
Konselor “Kamu merasa kesal karena kamu ingin sekali melakukannya tetapi kamu tidak bisa bersikap relaks?” mengonseptualisasikan aset
Konseli “Betul bu, andaikan saya tahu harus berbuat apa  mungkin saya bisa bersikap relaks saat pelajaran berlangsung.”
Konselor “Kamu merasa jengkel karena kamu tidak tahu harus berbuat apa dan kamu benar-benar ingin bersikap relaks saat sebelum dan  pelajaran berlansung ?” menginternalisasikan aset
Konseli “Iya bu, jika saya tahu bagaimana cara agar saya bisa bersikap relaks, tentunya saya harus bisa melakukan suatu usaha dan melaksanakan usaha tersebut.”
Konselor “Kamu merasa sedih dan kecewa karena kamu tidak bisa melakukan suatu usaha yang berarti dan kamu benar-benar ingin melakukan usaha tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh kemampuan kamu mengembangkan rencana usaha tersebut dan melaksanakannya?” mengongkretkan aset
Konseli “Iya juga sih bu, tetapi apakah saya bisa melakukan semua itu?”
Konselor “Kamu tidak yakin dengan diri kamu sendiri, apakah kamu bisa atau mampu melakukannya walaupun kamu telah berkata mau mencobanya.” mengonfrontasikan aset
Konseli Iya juga sih bu, saya benar-benar  ingin mencobanya tetapi saya kurang yakin
Konselor “ Kamu merasa sedih karena kamu tidak merasa bisa bersikap relaks saat sebelum dan saat pelajaran berlangsung dalam kelas ?” Mempersonalisasi perasaan(perasaan tentang arti)
Konseli “Iya bu. Saya jengkel dengan diri saya sendiri, gara-gara saya tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya semua jadi seperti ini”.
Konselor “Kamu merasa marah dengan diri kamu sendiri karena kamu tidak tahu harus berbuat apa?” Mempersonalisasi perasaan (perasaan tentang kekurangan )
Konseli “Betul bu. Tapi seharusnya saya tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi masalah ini. Saya akan bertindak dan melakukan suatu usaha bagaimana caranya agar saya bisa bersikap relaks sebelum dan selama pelajaran berlangusung”.
Konselor “Bagus Rahmi, kamu merasa sudah tidak sabar lagi  karena ingin segera melakukan suatu usaha agar kamu bisa bersikap relaks”. Mempersonalisasi perasaan (perasaan tentang tujuan)
Konseli “Ya bu, saya sudah tidak sabar lagi ingin segera melakukannya”.

Sumber : https://andyouandi.net/