2594 Lynn Ogden Lane

Blog Details

Home   /   Tahapan Pendekatan dan Perenggangan Hubungan dalam Interaksi
Tahapan Pendekatan dan Perenggangan Hubungan dalam Interaksi

Tahapan Pendekatan dan Perenggangan Hubungan dalam Interaksi

Tahapan Pendekatan dan Perenggangan Hubungan dalam Interaksi
Tahapan Pendekatan dan Perenggangan Hubungan dalam Interaksi

Menurut Mark L. Knapp dalam buku Social Intercourse: From Greeting to Goodbye (1978), dalam interaksi sosial terdapat tahap yang bisa mendekatkan dan tahap yang bisa merenggangkan hubungan orang-orang yang berinteraksi. Di bawah ini adalah penjelasan kedua tahap tersebut.

Tahap yang Mendekatkan
Tahap yang mendekatkan dijabarkan menjadi tahap memulai (initiating), menjajaki (experimenting), meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating), dan mempertalikan (bonding). Contoh, saat pertama kali masuk sekolah, Anda tentu mulai menjajaki hubungan dengan orang lain dengan saling bertegur sapa yang diikuti obrolan-obrolan ringan, seperti asal sekolah dari mana, rumahnya di mana, atau bagaimana cara pergi ke sekolah. Hasil penjajakan ini dijadikan dasar untuk memutuskan apakah hubungan kalian bisa ditingkatkan, dipertahankan, atau tidak dilanjutkan sama sekali. Hal yang sama juga terjadi pada pasangan suami istri. Awalnya dimulai dari tahap penjajakan untuk memutuskan apakah hubungan bisa ditingkatkan, dipertahankan, atau tidak dilanjutkan. Apabila ditingkatkan, tahap selanjutnya adalah penyatupaduan. Pada tahap ini, kamu dan temanmu mulai merasa ada satu kesamaan atau kesatuan. Demikian pula, para calon suami istri. Dari tahap menyatupadukan ini, lama kelamaan interaksi dapat mencapai tahap pertalian seperti pernikahan pada calon suami istri.

Tahap yang Merenggangkan
Dalam interaksi, selain terjadi proses pendekatan, terjadi juga proses perenggangan. Proses ini terdiri dari tahap membeda-bedakan (differentiating), membatasi (circumscribing), memacetkan (stagnating), menghindari (avoiding), dan memutuskan (terminating). Contoh, dua orang yang dulunya berteman dan biasa melakukan kegiatan secara bersama-sama, mulai melakukan kegiatan sendiri-sendiri seperti makan atau pulang sekolah sendiri-sendiri. Setelah itu, pembicaraan tentang pertemanan mereka pun mulai dibatasi. Obrolan menjadi dangkal dan sekadar basa-basi saja. Seringkali pihak yang satu bicara tentang sesuatu, yang lain menyangkal, membantah, melarang, atau membentak.

Tahap selanjutnya adalah memacetkan. Di tahap ini tidak terjadi komunikasi. Kalaupun ada, hal ini dilakukan karena terpaksa dan dilaksanakan secara sangat hati-hati. Perbedaan kedua teman itu sudah sangat besar sehingga untuk membicarakan hal yang paling sederhana pun sulit dan dapat menyulut konflik. Jika kedua orang yang tadinya berteman itu sudah tidak berkomunikasi tapi masih berada dalam lingkungan yang sama (misalnya berada dalam satu sekolah), kedua orang tersebut berusaha untuk saling menghindar. Misalnya, berusaha tidak melewati jalan, lorong, atau ruang yang sama. Setelah terjadi jarak komunikasi

Sumber : https://forbeslux.co.id/