Unpad Kembali Buka Penerimaan Lewat Jalur Mandiri

Unpad Kembali Buka Penerimaan Lewat Jalur Mandiri

Unpad Kembali Buka Penerimaan Lewat Jalur Mandiri

Unpad Kembali Buka Penerimaan Lewat Jalur Mandiri
Unpad Kembali Buka Penerimaan Lewat Jalur Mandiri

Setelah sempat terhenti sekitar enam tahun, Universitas Padjadjaran (Unpad) kembali membuka Seleksi Mandiri Universitas Padjadjaran (SMUP) pada tahun 2019 ini. Selain menerapkan ujian berbasis komputer secara mandiri dengan android, SMUP mewajibkan mahasiswa yang lolos, untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) tertinggi dan dikenai dana pengembangan yang kisarannya antara Rp 15 sampai Rp 250 juta.

Pelaksana Tugas Rektor Unpad, Rina Indiastuti memaparkan, penerimaan mahasiswa lewat jalur

mandiri ini sesuai dengan UU 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi. Selain itu, ada kebijakan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi tentang Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri Tahun 2019 yang bisa dilakukan lewat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan seleksi mandiri. Kuotanya sudah ditetapkan pemerintah, untuk SNMPTN minimal 20 persen, SBMPTN minimal 40 persen, dan seleksi mandiri maksimal 30 persen sesuai daya tampung setiap perguruan tinggi negeri.

Rina memaparkan, konsekuensi bagi mahasiswa yang diterima lewat jalur mandiri harus membayar UKT tertinggi dan dana pengembangan. “Dana pengembangan digunakan untuk kembali sepenuhnya ke mahasiswa S-1 masing-masing program studi, bukan investasi bangunan, (atau) dikatakan menambah penghasilan dosen. Itu untuk pemenuhan delapan standar pemenuhan di standar nasional pendidikan tinggi,” kata Rina, Minggu (2/6/2019).

Dalam laman penerimaan mahasiswa baru Unpad tertulis rentang besaran dana pengembangan itu antara Rp 20 juta-Rp 250 juta untuk program studi saintek (sains teknologi). Sementara untuk program studi sosiohumaniora berkisar antara Rp 15 juta-Rp 75 juta.

Adapun besaran dana pengembangan yang maksimum mencapai Rp 250 juta ditetapkan bagi mereka

yang lolos seleksi masuk program studi kedokteran dan kedokteran gigi. Rina menjelaskan, penetapan besaran dana pengembangan itu sudah melalui perhitungan yang rinci.

Dia memberikan ilustrasi biaya kuliah bagi seorang mahasiswa program studi kedokteran. Menurutnya, setiap mahasiswa kedokteran harus membayar uang kuliah tunggal (UKT) sebesar Rp 13 juta per semester. Nominal tersebut merupakan unit cost menempuh pendidikan dikurangi subsidi pemerintah. Sementara selisih antara biaya kuliah dengan UKT mencapai Rp 20 juta.

“Kalau dikalikan (selisihnya) dengan berapa semester menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran itu akan ketemu angka Rp 250 juta. Dana pengembangan itu diasumsikan (biaya) sampai mahasiswa selesai sampai pendidikan profesi dokter. Kurang lebih 10 semester,” terang Rina.

Sehingga, sambung Rina, dana pengembangan sebesar Rp 250 juta per mahasiswa kedokteran

yang lolos SMUP itu akan jadi manfaat untuk seluruh mahasiswa kedokteran. “Dengan adanya kuota buat jalur mandiri di Fakultas Kedokteran maksimum 25 persen itu mampu membayar dana pengembangan. Digunakan bukan hanya untuk kelompok mereka saja, tapi seluruh mahasiswa sarjana di Fakultas Kedokteran,” tambah Rina.

 

Baca Juga :